Hihihihi, masih ingat postingan saya yang ini? Nah itu postingan saya buat tanggal 30 Juli. Tuponas itu tanggal 31 Juli. Tuponas adalah hari terakhir tutup poin. Dari tanggal 30 ke tanggal 31 kan cuma sehari yak. Jadi pikir saya..wiss sudahlah. Toh udah tercapai level pertama alias 3%. Toh 2 anak saya sudah tupo. Sementara anak ketiga baru bergabung tanggal 27 Juli. Cucu pertama KTPnya juga baru dikirim tanggal 25 Juli, kayaknya terlalu maksa bagi mereka kalau harus tupo sekarang.

Makanya sayapun merasa enough. Postingan blog pun saya publish pas jam istirahat siang di kantor, lengkap dengan statement gajinya pada tanggal 30 Juli, siang hari. Eeee taunya pas pulang kerjaa, mak Dency BBM. Katanya Mak Dency mau menchallenge anak ketiga saya-Irma, untuk tupo. Maka saya pun kabari ke Irma, anak ketiga which is ternyata langsung memutuskan untuk menjawab challenge ituu. Maka tupolah anak ketiga di tanggal 30 Juli :D.

Kemudian berdasarkan pelajaran itu, cucu pertama-Egha akhirnya saya challenge juga untuk tupo. Padahal didaftarkan juga belom. Dan ternyata dia amat senang dichallenge, senang diajak ngebuutt. Egha menjadi lebih bersemangaat. Maka tupolah dia pada tanggal 31 Juli! Dan selama masa itu emak Dency berbaik hati untuk mengambilkan pesanan kami semua di Orifast Semarang. Akhirnya bagaimana? Akhirnya level saya naik menjadi 6% dengan gaji 157rb, hanya dalam 1 hari saja.

6%

Apa yang saya pelajari dari pengalaman ini? Buanyaaakk!!

Satu. Bahwa saya ternyata cepat berpuas diri. Merasa target tercapai, 3%, lalu saya pun santai…bahkan saking santainya katalog Juli saya buang, oooh tidaaak. Waktu itu saya merasa, “Oke, sekarang Juli adalah masa lalu, mari kita fokus ke Agustus.” Padahal itu masih tanggal 30, bukan 31 Juli. Saya sangat sombong, sangat amat sombooonggg T-T.

Dua. Bahwa ternyata usaha keras dan kerja sama sampai titik akhir itu bisa membuahkan mukjizat. Dengan tuponya cucu saya-Egha, anak kedua saya-Tiwi bisa naik level menjadi 3%. Dengan tuponya Irma, anak ketiga saya, ia menjadi lolos kualifikasi WP1. Dan semua mendongkrak saya untuk naik menjadi 6%.

Tiga. Bahwa manusia butuh challenge. Coba kalau saya diam saja dan stop di level 3%, maka Irma dan Egha tidak akan lolos WP1 pada hari itu, dan Tiwi-anak kedua saya tidak akan naik level, dan saya pun akan stay tune di level 3%. Tapi dengan challenge dari Mak Dency, kami semuanya bergeraak maju, majuuu, majuuu ke level yang lebih baik.

Jadi here I am. Hap hap, dalam 2 minggu, di bulan Juli, alhamdulillah saya berhasil lompat 2 level, senangnyaaaa.

Semua bisa karena ada bantuan downline. Karena ada bantuan upline. Karena ada kerja sama diantara downline dan upline. Ini yang paling kentara bedanya dibandingkan MLM saya sebelumnya.

Jadi untuk yang sudah punya niat gabung di Oriflame, tapi masih pikir2, bisa ga bisa ga bisa gaaaa, ga usah dipikiiir. Cobain aja, wong daftarnya cuma 50 ribu kok. Habis daftar, langsung tancap gas ke gigi 5, sruduuukk aj, wis ga usah tengok kanan kiri, mobilnya dari baja kok hahahaha. Manut sama upline karena mereka lebih senior dari kita, mereka lebih tahu medan perang daripada kita. Kemudian baru lihat dan rasakan disana, apa yang membuat kami berbeda :).

Merasa ga cocok? Bisa keluar saat itu jugaaa. Apaa, ga da uang penalti2an kook. Cuma rugi uang pendaftaran alias 50 rebu tadi itu aja.

Klik www.febrie14.com bagi yang tertarik yaa :D :D.

*makasih tiada tara buat Makku tercinta, Dency di Semarang. Tiap ditelvon, selalu menjawab dengan suara yang lembut padahal saya ngerepotin setengah mati hahaaha.

*makasih juga buat anakku Daniq, Tiwi, Irma, dan cucuku Egha. Kita semua start bareng di bulan Juli. Gandengan terus kita di bulan2 berikutnya yaaa. Bismillah, bisa!

Malam ini dapat berita mengejutkan dari bunda uplineku, mantan teman sekost-an dulu, Dency Loiciana. Secara umur mah sebenarnya tuwiran saya, huwaaaa, tapi secara ilmu, Dency jauh lebih senior daripada saya.

Bunda tiba2 bbm saya donk, bilang “Mbaak, selamat yaa udah lolos WP1 dan lolos 3% juga.” Heeeh? Jujur saya kaget, soal perasaan baru 2 minggu join Oriflame, lom maksimal juga perjuangannya eee udah 3% aj. Udah ada gajinya pulaak.

Jadi ingat gimana pengalamanku dulu. Sebenarnya setahun yang lalu, saya mah sudah diajak Dency join Oriflame. Waktu itu saya hooh-kan aja secara uang pendaftarannya ga begitu mahal, hanya 50rebu. Pikir saya, gpplah bantu bisnis teman karena waktu itu saya juga sedang menjalankan bisnis MLM H**balife jadi mengerti sekali tentang effort di dunia MLM.

Terus katalognya datang donk tapinya ga diapa2in, wakakakak. Cuma digeletakin di meja, paling ngeliatin covernya, tapi ga dibolak balik juga ahaahhaah. Waktu itu memang masih sibuk menesis, buseed, aseli sibuk banget. Ditambah juga bisnis H**balifenya lagi debut2nya. Masih ga mau ngeliat peluang di Oriflame, masih sombong, ampe buka katalognya aj malas :p.

Walau begitu, saya tetap memantau progress Dency lewat fb. Secara doi selalu update status tentang bisnisnya kaan. Hari berlalu, bulan berganti, tepat satu tahun berjalan sejak waktu itu…eeee si Dency udah 5jt aj per bulan sementara eke masih ngendon di angka 1-4jt (naik turun net profitnya ngikutin mood jualan). Ooooi saya berasa kebalap deeh. Jadi makin curious deh saya, apa sih yang nyebabin dia melaju lebih cepat?

Dan kemudian saya temukan jawabannya di status2 facebooknya. Merasa butuh konfirmasi, saya juga cari tahu dengan googling kemana2. Saya compare dengan bisnis MLM saya, saya cocokkan dengan sikon saya yang wanita kantoran, dan akhirnya saya mengaku. Saya akui, setahun yang lalu saya adalah orang yang SOMBONG dan SOK PANDAI. Sebegitu MERASA HEBATNYA sehingga tidak mau melihat peluang yang lain. Bahwa ada pintu yang terbuka amat lebar di depan mata namun tertutup tirai, tapi saya masiiiih juga maksa keluar lewat pintu yang kecil dan sempit.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk bergabung kembali. Kali ini dengan niat. Kali ini dengan tekad. Karena saya punya suatu harapan, suatu keinginan yang hendak saya penuhi disini. Dency pun menerima saya lagi huhuhu, maluuuu sebenarnya saya. Tapi memangnya malu bisa bikin kenyang apa? Wek, pake bedak aj tebel2 biar malunya mental lagi, ahahahah.

Dan disinilah saya, 2 minggu join, sudah nerima gaji, gaji diluar keuntungan jualan pakai katalog loh ya. Emang berapa sih gaji saya di level 3% ini? 51 rebu maaak. Jauuuuh dari gaji saya di H**balife. Apalagi dari gaji kantoran hihihi. Tapi so what? Walau itu cuma 50 rebu, saya amat menghargainya karena ini memang harus dijalani. Ilmu saya memang baru seharga 50 rebu. Beli katalognya masih itung2an. Nyebarin katalognya masih gengsi2an. Baca web d’BCN nya masih males2an. Ngikut training FBnya telaaat molo. Orang udah pada mau bobok, eee saya baru baca ahahaha.

Namun saya tetap akan lanjutkan menuju yang lebih baik lagi, karena saya ingat kembali SEMUA ALASAN MENGAPA SAYA MAU BERBUAT SEPERTI INI.

50 ribu adalah gaji pertamaku :). Alhamdulillah nominalnya lewat tipiiiisss dari batas transfer hahaha.

Untuk bunda Dency, yang sudah mau mengajari saya, bantu saya untuk rekrut dan bina, terima kasih banyak yaaaa. Saya akan meniti batu2 selanjutnya.

Untuk timku yang baru 2 orang, huk hik huk, Daniq dan Tiwi, kita gandengan yang erat yaa. Percaya, kalau kita bisa sampai disana. GANBATTE KUDASAI!

Untuk yang pengen tau lebih lanjut tentang bisnis ini, silakan klik www.febrie14.com, pilih bagian yang dapetin e-book gratis yaa.

Saya memilih untuk melepaskannya. Saya memilih untuk pindah. Kesannya kayak pindah kantor or pindah kerjaan gitu ya, wakakaka. Gaaa, ini pindah MLM (*jiaah pindah MLM aj kok heboh hahahaha).

Sebelumnya, saya ikut MLM H**balife. Ceritanya ada disini. Produknya cocok banget bagi saya karena bisa menurunkan bb sampai 9kg banyaknya. Biasalah emak2 abis ngelahirin, semok sana sini :p. Nah karena terpukau akan daya efeknya, saya pun menyelami bisnisnya. Kebetulan juga ga ngoyo si..dalam artian, laku ya bagus. Ga laku juga gpp, toh bisa saya habisin buat konsumsi pribadi. Kenapa juga saya mau ikutan bisnisnya? Yah pikir saya waktu itu biar bisa belajar bisnis ajaaa, mengenali sifat dan kemauan customer, merasakan untung, merasakan rugi, merasakan dimarahi, merasakanlah gimana menjadi sales itu. Kalau profitnya bagus kan lumenjen ya book, bisa eke…eke…gatau deh. Lom kepikiran waktu itu uangnya mau diapain, wakakaka.

Ternyata, untung..iya! Rugi…tidak! Alhamdulillah, saya tidak merugi sama sekali di bisnis ini. Time consuming?..tidak juga. Wong saya promosinya ke teman kantor, terus iklanin di blog. Udin deh. Ga pernah iklanin di fb, ga pernah broadcast message di BBM. Benar2 ga ngoyo. Tapi begitu saja sudah bisa memberikan saya income sebesar 1-4jt/bulan dan itu menurut saya banyak karena ga pernah saya dapat uang selain dari gaji hihihihi. Dengan uang itu akhirnya saya bisa hadiahkan kado ultah buat suami, ga perlu pake gajiiii, cieee. Selebihnya, masih lom tahu juga mau diapain. Masih ngendap hasilnya di ATM, hihihi.

Namun setelah 1.5 tahun menekuni bisnisnya mulai dari ga tahu apa2 sampai lumayan tahu, saya baru sadar kalo susah bagi saya untuk menaikkan income tersebut. Karena saya ga bisa total disini.

Alasan pertamanya, karena untuk mengembangkan bisnis ini seyogyanya mengikuti trainingnya alias STS. Di training ini akan ada banyak ilmu plus pembakar semangat sehingga kita akan terdorong untuk lebih fokus dan fokus. Trainingnya kisaran 80-150rb/sekali datang. Seyogyanya juga menghadiri Extravaganza yaitu pertemuan para H**balifer sak-Indonesia, melihat puluhan ribu orang dengan animo yang sama pastinya akan memantapkan kita di bisnis ini. Kemudian juga sebaiknya mengadakan shake party di berbagai tempat, membuat klub nutrisi, dan banyaaaak lagi yang notabene adalah OFFLINE. Alias memerlukan fisik dan waktu tersendiri untuk melakukan itu.

Sementara saya 8 jam udah di kantor, dari Senin-Jumat. Suami juga begitu. Jadi pengennya suami, kalo wiken tuh ya ngumpul bertiga sama anak, jalan kek kemanaaa, di rumah juga gpp asal menikmati waktu secara berkualitas. Jangan malah sibuk lagi dengan kerjaan, laaah kapan ngumpulnyaaa? Benar! Suami saya benar sekali. Jangan pernah bisnis saya menghambat kualitas keutuhan keluarga wong sekarang saja saya bisa kerja di kantor juga sudah merupakan izin istimewa dari suami kook. Maka…ya begonolah. Bisnisnya jadi menyiput jalannya hihihi.

Kedua, saya mulai merasa ga sreg dengan timnya :(. Di bisnis ini, ada berbagai cara untuk mencapai level. Sebut saja cara A dan cara B. Cara A bermodalkan dana yang banyak untuk mendapatkan diskon tertinggi. Cara B bermodalkan sistem cicilan untuk mendapatkan diskon tertinggi. Saya pakai cara B. Tim yang saya ikuti adalah tim penganut cara B. Masalahnya, tim A dan tim B ga akur, soob. Tiap tim saya ngumpul, baik di grup BBM atau di whatsapp, atau dimanapun itu…selalu isinya membanding2kan kedua cara, yang ujung2nya mendiskreditkan cara A. Duuuh, ga betah banget saya. Maksud saya, beda ya udahlah beda ya…. Ga usah sampai disebut berkali2. Kalau mau maju, ya monggo maju saja. Tunjukkan kelebihan cara kita tanpa menegatifkan cara lain. Belum lagi kalau ada rekan yang cerita baru aj ditolak sama calon customer. Wew..bahasannya aduuuh, walo sekedar humor tapi kok ya cenderung negatif. Akhirnya karena jengah dengan isi pembicaraan yang seperti itu, saya memilih diam dan hanya jadi member pasif. Kalau pasif selama berbulan2, sesuai aturan..bakal dikeluarkan dari grup. Yo wiss, ga papa qiqiiqqii, yang penting bukan saya yang memutuskan “tali”-nya.

Ketiga, yang merupakan salah satu kelemahan bisnis ini adalah adanya diskon berjenjang dengan separasi yang cukup tinggi. Diskonnya ada yang 0%, 25%, 35%, 42%, dan 50%. Diskon didapat sesuai dengan usaha atau dana yang dikeluarkan. Sesuai etika bisnis, kita dilarang menjual dengan harga diskon kepada orang2 yang tidak berhak. Namun disini susahnya yaa. Orang2 dengan diskon 50%, dalam usahanya untuk mengembalikan modal awal, seringkali menjual di internet dengan smack-down harga gitu deeh. Harga mereka sudah ga reasonable, mereka bisa menjual dengan diskon hampir mencapai 50% untuk orang yang bahkan member saja tidak. Bayangkan, dimana penghargaan mereka untuk orang2 yang sudah berusaha keras baik dana maupun tenaga untuk mendapatkan diskon yang setara.

Saya adalah pengikut etika bisnis. Banting2 harga merupakan bisnis yang tidak sehat dan saya tidak mau melakukannya karena saya tidak ingin mematikan usaha teman2 saya. Kerap kali ketika ada calon customer menghubungi saya, mereka kemudian pindah karena mengetahui bahwa ada harga di internet yang lebih murah. Yang lebih parah lagi, member saya yang berada di level diskon 25% pun pindah karena menemukan tetangganya menjual dengan harga untuk level 35%. Luar biasa!

Bagi mereka yang pindah, tentu saya ikhlaskan. Saya tidak punya hak untuk memaksa karena bukan saya yang punya dana. Tapi bagi mereka yang menjual dengan banting harga itulah yang saya sesali. Sedemikian desperatenya-kah mereka hingga mau melakukan hal itu? Saya tidak merasa dirugikan si…karena memang statusnya masih untung. Tapi saya perlahan jadi tidak merasakan adanya masa depan cerah disini..

Akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Sekali lagi, saya pindah bukan karena produknya loh yaa.

Jadi bismillah, saya akan pindah dan belajar hal baru dari awal lagi.

Pindah ke mana..?

Hihihihi…. :)

Sidang :D

Posted: June 20, 2013 in Kuliah oh Kuliah

Pada suatu hari datanglah email yang isinya ini.

und sidang febrie2Eaaa..finally, the time has come. Apa ya persiapan guwee? Pertama, baca dan baca lagi isi tesisnya biar makin nyantol di otak. Sampai hapal, kalau perlu sampe halaman2nya juga hapal, ahahah. Kedua, buat prediksi pertanyaan. Kira2..penguji gw nanti bakal nanya apa yaaa? List pertanyaan udah jadi, lanjut ke ketiga, jawab sendiri prediksi pertanyaan tersebut! Dan doweenng, ternyata prediksi pertanyaan gw susah2 ya mpok. Ampe gw sendiri kelabakan jawabnya. Wah untung profesi gw bukan dosen, niscaya ancur mahasiswanya kalo saya yang nguji ahahahah. Sebenarnya jawab ngasal sih bisa, jawab penuh penghayatan itu loh yang susah. Walhasil gw jadi sibuk sendiri deh buka buka textbook buat jawab pertanyaan gw sendiri yang nyusahin ini (*halaah).

Keempat, latihan presentasi biar makin menguasai. Waktu yang diberikan 20 menit. Jangan sampai kelebihan, nti yang dengar bisa begah ahahaha. Kelima, pesan travel dan hotel buat stay in 1 night. Terpilihlah Holiday Inn. Berhubung eke takut tidur sendiri, kontak Fanny dulu buat nemenin heheheh.

Dan yang terakhir adalaah…persiapan penampilan. Ehem, penting nih! Untuk baju, gampil. Blazer and celana itu udah makanan gw sehari2 di kantor. Tapi ini loh, rambut kok ya lagi lepek2nya. Panjang ga jelas, hampir mirip Sadako. Daripada gw ga PD, mending rambut ini dipotong sajalah. Jadi gw putuskan untuk potong rambut di Bandung.

Sehari sebelum hari H, gw udah siapin kamera buat poto2, tesis, materi presentasi, dan print2an prediksi pertanyaan buat latihan di hotel. Berangkatlah saya ke Bandung. Sampai jam 3, langsung check-in di Holiday Inn. And then..mulai deh bingung cari tempat potong rambut. Berhubung yang dekat dengan ITB adalah Roger Salon, mengangkotlah saya kesana.

Tadinya pas potong itu niatnya mau sambil baca lagi materi tesis or presentasi, tapi yang ada…gw malah makan. Pas banget di Roger ada menu makanannya. Lapar book. Kagak bisa nunggu sampai potong rambutnya kelar. Susah ya ternyata, makan sambil potong rambut itu. Hasilnya kependekan pula. Direquest sebahu, kapsternya malah potong di atas bahu. Leher gw jadi kemana2 heu.. PD lagi dia bilang, “Ini model yang sedang in Mbak. Cocok banget buat muka mbak!”. Hiks..iya Mbak, iya..

Habis potong rambut, ketemuan sama Fanny. Pesan suami, buat Fanny yang udah berbaik hati menemani istrinda bermalam di hotel, traktir Fanny sepuasnyaaa. Maka Fanny pun memilih Swiss Butcher tapi karena keabisan tempat, akhirnya kita nggelesor ke Le Gourmet. Perut udah kenyang, jam udah 8 malam. Pulangnya berencana untuk belajar buat persiapan sidang tapi apa daya kepala pusiiing. Kebanyakan makan keknya nih. Akhirnya beli Panadol, tenggak, terus bobok. Bangun2 udah jam 7 pagi ajya T-T.

Ini gimana siiih. Niatnya mau belajar kok kerjaannya malah makan dan makan dan boboook? Agak2 grogi jadinya karena hari2 sebelumnya belajarnya apa adanya, lah H-1 malah gada belajar samsek, tapi untungnya pas berangkat cuacanya cerah. The sky is so blue, the sun is shining bright. Udaranya hangat dan anginnya lembut. Mood saya langsung naik dan PD, hari ini aku pasti bisa! Langit menyambutku dengan senyumnya, maka aku harus BISA!!

Sidangnya telat setengah jam karena nunggu dosen2nya pada ngumpul. Tapi semua berjalan dengan sangat lancar. Sampai pas pengumuman nilai, ketua sidang mengatakan nilainya adalah xxx. Muka gw datar aj karena ga ngerti nilai itu masuk kategori apa. Apakah A? AB? B? Ntar deh gw tanya temen pas udah keluar ruangan.

Melihat tampang gw yang ga excited, Pak Eddy langsung bilang, “Kamu mesti ga tahu itu nilainya apa. Itu A, Febrie!” Oalaaah, alhamdulillah. Langsung deh saya cengar cengir hahahah.

Sayangnya kamera yang udah dipersiapkan malah ketinggalan ajya di hotel. Untungnya pas sidang, ada yang berbaik hati memotretkan saya which is the only one documentation I have. Nuhun, Pak Eddy..

Abis sidang banyak teman yang tanya, IPKnya jadi berapa? Cum Laude ga? Waaa saya mah lulus aj udah senang, ga kepikiran lagi deh buat hitung IPK. Berapapun saya terimalaah, tunggu saja pas wisuda nanti. Cheers ^^.

*special thx to Fanny yang udah nemenin bobo and antar sidang dan ke travel. Susul aku segera yaa!!

Bimbingan dan Bimbingan…

Posted: June 19, 2013 in Kuliah oh Kuliah

#posting lupa publish juga T-T. Keasikan menesis kayaknya waktu itu.

Yah gini deh kalo punya dosen pembimbing yang bimbingannya sejibun. Mesti antriii.

Yang datang 4, yang boleh masuk cuma 1.

Tapi gpp, kalo ngumpul sesama cewek dijamin ga bakalan bosen kok antrinya. Soalnya selalu ada aja kegiatan yang dilakukan. Misalnya seperti di bawah ini… :p.

Sementara Titin Sumarni sibuk dengan bimbingannya, stress dengan progressnya, kita2 bersenang2 dulu..

Ayuk ah Dwimara Tiffany, Tri Handayani..!! Kita kebut biar cepat seminar, sidang dan wisuda bareeenggg!!

Seminar Juga Gw

Posted: June 19, 2013 in Kuliah oh Kuliah

#liat2 draft posting e ternyata ada postingan zaman kapan…lupa dipublish. Udah basi tapi gpp lah ya, demi dokumentasi :D.

Dari 39 peserta kuliah S2 ITB Geologi Minyak Kelas Jakarta, hampir semuanya mengimpikan bisa wisuda bulan April. Tapi sebelum mencapai masa wisuda, tentu harus seminar dahulu. Seminar bertujuan untuk menginformasikan kepada hadirin, sejauh apa progress tesis kita. Yang menghadiri seminar bisa siapa aj. Untuk jurusan gw ini, alhamdulillah seminar cukup 1x, revisi draft, langsung bisa sidang (gw pernah denger ada kampus yang mewajibkan seminarnya perlu berkali2, hiiiy)

Walo bapak2 pembimbing sudah menyatakan bahwa yang namanya seminar ga kudu perfect, ga kudu final, ga kan ada sesi bantai-membantai, tetep aj kita2 jiper. Walhasil sekarang udah bulan April 2013, bulannya wisuda, eeeh yang seminar baru 5 orang booo.

Ga usah jauh2, gw kasih contoh diri gw sendiri deh. Jauh hari Pak Eddy, pembimbing gw udah berpesan, “Feb, nanti kalau sudah selesai 60-70%, udah boleh seminar ya. Seminar itu yang penting ada dasar teori, ada analisis, dan ada kesimpulan sementara. Ga perlu buat draft, yang penting ada slide.”

Nggih, Pak (*yang penting jawab dulu).

“Loh, bener loh ini. Seminar itu tidak ada SKS-nya. Tidak ada nilainya. Seminar itu dibuat dengan tujuan agar dosen pembimbing mengetahui progress tesis mahasiswa sudah sampai mana. Karena kalian kan semua bekerja, tidak setiap saat bisa bimbingan. Tidak setiap saat kami bisa memantau perkembangan tesis kalian. Sering kali mahasiswa tiba2 ingin maju karena mengejar kelulusan, mereka membawa draft tesis yang sudah final, laah padahal setelah pembimbing cek kok isi tesisnya banyak yang ga bener. Nah itu karena kurang bimbingan. Untuk meminimalisasi hal itu, makanya ada seminar.”

Oooo…

“Nah masalahnya adalah, kebanyakan mahasiswa itu saya lihat terlalu takut dengan seminar sehingga mereka menyiapkan begitu rupanya. Saking ingin yang terbaik, eh kok tiba2 sudah dekat bulan kelulusan. Akhirnya mereka seminar di waktu yang mepet. Lah yang repot kan juga dosennya. Belum tentu kami waktunya available pada saat itu, kan kasihan juga mahasiswanya.”

Nggih, Pak (*kali ini beneran nancap).

Akhirnya beneran, gw kebut aj semua dah. Ga pake perfek-perfekan. Nyang penting saya mengerti alur kerjanya, saya menguasai metode penyelesaiannya, dan saya dapatkan kesimpulan sementaranya. Salah dikit sana-sini, cuekin aj. Tampilan slide cupu-cupu, e ge pe. Nyang penting 3 poin tadi gw dapat. Maka seminarlah gw di bulan Maret 2013.

Pas banget di hari itu kampus lagi sepi. Hadirin dikiiit banget, ga sampai 15 orang, tapi toh saya juga tidak peduli. Prinsip gw saat itu, 1) seminar ini untuk dosen pembimbing saya, maka merekalah yang sebenarnya wajib hadir. 2) ini adalah sesi sharing, bukan suatu ujian. Para pembimbing dan hadirin akan memberikan input untuk membuat tesis saya menjadi lebih baik lagi, bukan untuk menguji dan menjatuhkan saya atas apa yang telah saya kerjakan.

Berkat 2 prinsip yang gw rapal dalam hati itu, akhirnya gw bisa seminar dengan mulus2 saja, alhamdulillah. Dan beneran deh, aroma seminar itu bukan bau pembantaian, tapi wangi penyaranan. Para hadirin benar2 memberikan masukan yang sebelumnya ga pernah kepikiran oleh gw. Ember ya, ga usah sok sempurna, toh kita seminar untuk perbaikan juga. Melakukan yang terbaik memang wajib, tapi harus ada batasnya juga. Lah kalau terus yang terbaik dan terbaik, kapan selesainyaaaaa? Manusia kan makhluk yang tak sempurna, tempat berlumurnya salah dan dosa. Di tiap2 yang kita kerjakan, memang pasti ada aj kekurangan yang terjadi.

Ayok ah temans seperjuanganku. Tau gini gw seminar lebih cepat, iiiihhhh jadi demen deh eke sama seminar (*mulai sok, hahaha).

*cara di atas tidak mempan untuk dosen2 yang “sulit” :p

Habis seminar langsung makan doonk. At Siete, Bandung with Fanny, temen seperjuangan.

Habis seminar langsung makan doonk. At Siete, Bandung with Fanny, temen seperjuangan.

Wiken kemarin kami berkesempatan untuk mengunjungi rumah keramik F. Widyanto. Widyanto adalah seniman Indonesia yang mengkhususkan dirinya ke pembuatan keramik. Info lengkapnya bisa dilihat di web ini.  Aslinya tempat ini dekat banget lokasinya dari rumah, kepeleset dikit nyampe ahak2. Paling 20 menitanlaah. Yey, 20 menitan dari mana? Ga penting, pokoknya lokasi si rumah keramik itu ada disini.

Waktu baru melewatin gerbangnya, phew..rimbun ya book rumahnya dan keknya 10x luas rumah eke ahahaha. Luaslaah pokoknya. Langsung disambut sama securitynya. Biaya masuknya ga mahal kok, cuma 10rb/orang.

Rumah Keramik F. Widyanto, Tanah Baru Depok

Rumah Keramik F. Widyanto, Tanah Baru Depok

Ternyata di dalam juga ada rumah makannya. Berhubung jamnya maksi plus juga mau wisata kuliner, jadi kita cobain juga deeeh. Kisaran harga makanan 25-50rb. Sila lihat menunya aj deh. Gw pesan Sangu Boboko, papa mama pesan Sangu Poros, suami pesan Nasi Campur, Alif pesan nasi goreng as usual-laah. Dari semua menu, yang paling normal rasanya ya nasi gorengnya Alif ituu. Sementara makanan kami semua rasanya terlalu rempah2. Ada bumbu2 yang tidak biasa kami gunakan dipakai disini sehingga lauknya jadi kentara banget berasa asam dan asinnya. Walhasil kami semua tidak habis, mubajir saja jadinya..hiks. Es sorbet, mangganya masaam. Tapi kalo esnya udah mencair, yaah lumayanlah jadi segeran. Pisang goreng Kalimantannya enyaaak soob, aseli enak walo mahal huks. Singkongnya standar hehehe. Kesimpulannya, kalo ke sini saya akan memesan goreng pisang saja iihihiihih.

menu di resto Rumah Keramik F. Widyanto, Depok

menu di resto Rumah Keramik F. Widyanto, Depok

Kemudian kita langsung ke pelatihan claynya donk. Dengan uang 115rb, kita akan dapat 400gr clay.

Ruang pembuatan keramik, bermacam cetakan dan aneka pewarna keramik.

Ruang pembuatan keramik, bermacam cetakan dan aneka pewarna keramik.

Jadi gimana caranya bikin keramik? (*dibimbing sama guide nih). Pertama, ambil cetakannya dulu yak. Mau bentuk apa? Bentuk apa aja ada disana. Sampe angry bird aj ada. Habis itu..silakan simak dari pic di bawah.

Cara membuat keramik sederhana dari clay

Cara membuat keramik sederhana dari clay

Cara membuat keramik sederhana dari clay

Cara membuat keramik sederhana dari clay

Kalau udah kelar, keramik tersebut harus diangin2kan dulu deeh selama 3 hari biar kering sekering2nya. Lamaaaaa, ember lama. Kirain bisa langsung diwarnai. Berhubung Alif maksa pengen ngewarnain sendiri, akhirnya kami kudu nambah 25rb buat proses pewarnaan. Kami pun dipersilahkan datang kembali minimal 3 hari setelahnya. Betewe, 400 gr itu ternyata dapat lumayan banyak loh. Jadi jangan esmosi langsung beli 400gr untuk tiap orang.

Si clay 400gr dimanfaatin sebegitu rupanya sampai ga bersisa sedikitpun wkwkwk

Si clay 400gr dimanfaatin sebegitu rupanya sampai ga bersisa sedikitpun wkwkwk

Kalau mau buat keramik yang lebih cihuy kayak di tipi2, yang bentuk2 vas dan guci gitu bisa jugaak. Bayarnya beda, 450rb untuk 2kg clay. Ngerjainnya di mesin manual khusus kayak foto di bawah ini niih.

Berhubung duit ga cukup, kita imajinasikan saja wakakaka

Berhubung duit ga cukup, kita berimajinasi saja wakakaka

We are in action :D

We are in action :D

Selesai dari sini, kami pun pergi ke rumah F. Widyantonya. Jadi rumahnya memang dibuka untuk umum, buat dilihat2. Apakah rumah ini sering ditempati oleh sang maestro? Wah gatau juga..Rumahnya 2 lantai. Kami hanya mengunjungi lantai pertama saja karena kebentur waktu. Lantai satunya aj beuh, ga bisa sebentar. Tengok kiri, nyeni. Tengok kanan, nyeni. Liat belakang, nyeni. Berbeda dengan konsep satu ruangan dengan satu point interest, ini mah dalam 1 ruangan si point interest nemplok dimana2. Terkesan rame memang, tapi bagus kok. Sampe lantainya aj ga dibiarkan polos. Di tiap ubinnya ada cetakan bunga or daun or kupu2 gitu.. Setiap detil ruangan ga lepas dari seni deh.

Patung sebelah kanan itu adalah fave gw bangetttt, Narcissus. Legendanya si istilah "narsis". Kamar mandinya luas dan baguus, jende segede bagong, konsep outdoor.

Patung sebelah kanan itu adalah fave gw bangetttt, Narcissus. Legendanya si istilah “narsis”. Kamar mandinya luas dan baguus, jendela segede bagong, konsep outdoor.

Betewe di rumah ini ada 2 kamar yang disewakan looh. Gatau juga ratenya berapaan. Waktu gw masuk, wiii, tempat tidur kelambuu.. Ehm, siang hari bagus sih. Soal terang. Agak malam kok ya saya berasa rada wedhi hehhehe. Benda2 seni menurut gw bagusnya memang diliat di galeri. Kalo dipajang banyak dalam rumah ya..saya…kok jadi merasa nafas agak berat (*hubungannya?).

Habis dari rumahnya baru deh kami ke galeri seni. Keramik2 disini dijual. Beberapa lucuk2. Tuh ayah beli asbak rokok seharga 200rb. Coba kalau ada keramik Honda CB atau Pitung atau vespa jaman jadul, hmmm mesti diembat tuh, mesti! Di galeri peraturannya sih “no pics taken allowed” tapi kan saya bandel, jadinya curi2 foto ehehehe.

6 burung hantu bermain musik, 7.5 juta ajya..

6 burung hantu bermain musik, 7.5 juta ajya..

Wastafel cantik, daku naksir deeh. Tapi harganya 5 jetong, diskon si 20%..ttp aj mahal bagi gw *_*

Wastafel cantik, daku naksir deeh. Tapi harganya 5 jetong, diskon si 20%..ttp aj mahal bagi gw *_*

4 hari berikutnya kami datang kembali untuk proses mewarnai. Untuk pewarnaan, pertama harus diberi cat dasar..kayak dinding rumahlah, perlu dikasih cat dasar. Abis itu baru deh dikasih cat benerannya. Disini susahnya heu. Angry bird Alif, si wall breaker itu kan warnanya merah nyata. Tapi catnya warna merah muda pupus sekali. Kalau mau warna hitam, catnya warna coklat. Jadi ceritanya, abis proses pengecatan adalah proses pemanggangan clay. Proses pemanggangan menyebabkan warna cat menjadi lebih tua, itu sebabnya warna cat yang akan ditaruh di clay kadang berbeda banget sama hasil akhirnya. Nah si Alif kaga percaya dibilangin warna kalo angry birdnya mau warna merah, ya dicat dengan warna merah muda pupus..Abis aj bermenit2 ngasi krucil penjelasan. Akhirnya manut juga ehehehhe.

Alif amat sangat serius mewarnai angry bird kesayangannya. U go, kid! Kanan bawah adalah hasil kerja emal bapaknya, Tampak kurang meyakinkan ahahaha

Alif amat sangat serius mewarnai angry bird kesayangannya. U go, kid! Kanan bawah adalah hasil kerja emak bapaknya, Tampak kurang meyakinkan ahahaha

“Jadi kapan Mas, kita bisa ambil clay yang sudah dipanggang?”  2 minggu lagi, Bu. “Hoalaah, lama amaaat?” Iya Bu, soal manggangnya mesti banyak sekaligus karena mesin pemanggangnya besar..biar lebih hemat biaya. “Oooh…” (tersenyum mafhum).

So we’ll be back 2 more weeks and see our project. Ga PD sih ama hasilnya, ahahahah. Yuukks ajak anak2nya kesiniii.

Info aj:

1. Mendingan datang ke sini rombongan. Karena sepi banget dan akan lebih seru kalo pas waktu buat claynya dengan anak2 segambreng.

2. Datang pagi pulang siang. Jangan kayak kami..kwkwkwk datang siang, pulang sore. Panasnya kriik…kriiik…