Posts Tagged ‘jurusan IPC’

Duluu banget waktu SMA, asal ditanya mau jurusan IPA atau IPS, mesti saya jawab IPS. Soalnya di IPS keknya jelas gitu yang dihitung. U-A-N-G (plis, bukan matrek). Ada barangnya, bisa dipegang. Ga kayak IPA yang bersifat maya. Semacam…energi, emm..gaya?, gravitasi, tekanan, torsi (huek), huwaaa makanan apa ittuuu. Tapi apa dikata, nilai2 IPA gw (sama sekali ga bermaksud sombong) ternyata “kebagusan” sehingga kata guru BP, “Akan lebih bijaksana kalau kamu masuk jurusan IPA. Toh nanti waktu kuliah kamu bisa juga milih jalur IPS”. Oke deh ibuuukk…

Akhirnya gw tamat SMA, menuju ke persiapan masa kuliah. Tujuan bimbel: Jogja. Udah semangat aja nih mau pilih jurusan di universitas pilihan. Ditanyain bokap, mau jurusan apa nak? “Akuntansi Pa!”, menjawab dengan mantap. Eee gataunya si Papa mendelik dan bilang, “Kenapa akuntansi? Jadi dokter aj ya..uangnya banyak. Gampang kuliahnya, cukup menghafal nama2 latin aj kayaknya.” Iiih si Papa, kalau kerjaan dokter cuma menghafal nama latin, bisa2 jumlah dokter di Indonesia lebih banyak ketimbang pasyennya. Tapi ya udalah, karena ga ingin mengecewakan bokap seperti dulu, gw diam aj.

Akhirnya kan terpaksa pilih IPC tuh. Ilmu Pengetahuan Campuran..!! Boleh masukin jalur IPA, boleh juga IPS. Jaman gw dulu di tahun 2000 (yaah ketahuan deh umurnya :p), IPC itu bisa milih 3 jurusan. Terserah nih, mau 2 IPA dan 1 IPS, atau 1 IPA dan 2 IPS.

Kemudian datang jugalah saat itu. Malam hari, dimana esoknya gw mau menyerahkan pilihan jurusan ini ke kantor yang berwenang. Oke, pilper (piliha pertama, book) sudah mantaaf, AKUNTANSI UGM!! Pildu, ke..kedok..kedokteran..fyuh..(*nulisnya loyo, wong gw ngeliat darah aj takut). Ya sutralah, ratingnya tinggi banget juga, keknya ga bakal lolos huihihihihi. Yang ke-3 apa ya? Hemmm…eymmmm….

Lagi asyik masyuk melamun, tiba2 aj telvon bordering. Eeeh ternyata si Papa. “Nak, ganti Kedokteran dengan Teknik Informatika ya. Di kantor Papa, ternyata gaji IT tinggi2. Pilih yang ITB. Terus satu lagi Teknik Geologi. Pilih yang UGM. Gaji geologist juga tinggi2, Papa liat engineer2 itu pada kaya2.” Klik! (*telvon ditutup).

Meyooonggg…dengan kecepatan cahaya jurusan Kedokteran diubah papa ke Teknik Informatika. ITB pula. Gw liat ratingnya. Alamaaakkk, hampir 80? Ga salah nih si Papa? Pasti salah sih, soalnya si Papah kan ga punya buku panduan rating jurusan dan merasa anaknya wanita paling pintar se-Indonesia.

Tapi ya gw ga usah protes doonk. Secara kalau ratingnya tinggi kan pasti ga lolos, hihihihi jadi ya tetap ke Akuntansi juga. Okee..sekarang kita lihat Geologi. Apaaaa pula Geologi itu. Tercenung aj gw ngeliat nama jurusan yang sama ganjilnya seperti Geodesi dan Geofisika. Hmm..ratingnya kok ga gitu tinggi, cuma 47%. Rating ga tinggi, tapi kok gajinya tinggi ya? Wah..jadikan pilihan ketiga aj deh. Bahaya kalo gol. Maka ter-set di akal bulus gw seperti ini: 1. Teknik Informatika ITB, 2. Akuntansi UGM, 3. Teknik Geologi UGM. Mantaaap!!

Tiba2 telvon berdering lagi. Ternyata si Papaaaaah. Bilangnya gini, “Jadi apa urutan pilihan jurusanmu?” Astagaaa..!! Telinga nerakaaaa, bisikan hati aj bisa sampai ke kuping Papa, padahal lagi terpisah jarak ratusan kilometer.

Anak baik, jujur doonk tapi ternyata sodara sodaraah, jujur tak selalu membawa hikmah. “Kamu kan jurusan IPA di SMA! Ya ganti pilihan 1 dan 2 dengan IPA, pilihan ketiga baru IPS!!”. Astaghfirullah..

Dan akhirnya gw lolos Teknik Geologi UGM dengan mulusnya.. Sungguh batin tiada semangat. Bahu turun, muka kuyu, jalan layu. Waktu masuk kuliahpun, masih belum terbersit ide dan ga punya niat samsek untuk mencari tahu apaan itu Teknik Geologi.

Well, gw 100% yakin bokap memilihkan jurusan2 tersebut murni atas niat yang baik. Keluarga bokap dulunya kaya, namun karena suatu kejadian, berubah menjadi miskin sehingga bokap gw terpaksa merantau dari Jawa ke Pekanbaru-Sumatra, dimana isi tanahnya masih semak belukar semua. Untung waktu itu Caltex (sekarang Chevron) baru saja menemukan lapangan minyak raksasa sehingga saat itu semua orang yang ada di Pekanbaru direkrut karena Caltex butuh pekerja dalam jumlah banyak. Bokap gw terjumput dalam rekrutan itu, walo statusnya hanya tamatan STM.

Dan bokap gw adalah karyawan yang loyal. Sampai pensiun di umur 55 tahun, ga pernah mengeluh dalam bekerja. Dari mulut bokap yang keluar hanya kalimat2 kepuasan dan rasa syukur. Bokap ingin anak2nya menjadi lebih baik dari dirinya, wajar kalo beliau berpikir “uang banyak” bisa menjawab masalah itu. Sehingga pekerjaan yang dilirik hanya pekerjaan2 yang bergaji tinggi.

Tapi….gw tertarik dengan pelajaran berbau “uang”. Walo nilai gw bagus di IPA, bidang itu bukan pilihan gw.

Singkat cerita, gw tamat dari Teknik Geologi UGM dengan IPK lumayan. Bisa masuk ke perusahaan minyak dan mendapat gaji yang lumayan. Tapi tentang passion? Gw belum mendapatkan passion. Super duper iri sama orang yang bisa bekerja dengan semangat karena ia mengerjakan apa yang ia cintai. Gw kok ga merasa mencintai pekerjaan ini??

So buat teman2 yang sudah menemukan pilihan hidupnya, you are so lucky. Di dunia ini, kebahagiaan terbesar adalah bisa memilih hidup yang ia mau. Selebihnya, disikapi dengan kalimat klise seperti “Cintailah apa yang kamu kerjakan”, “Syukurilah selalu apa yang kamu dapatkan”. I don’t say that’s wrong, it’s totally right but it would be better if we can choose the life what we want.

Semoga saat Alif dewasa nanti dia sudah bisa memilih dengan mantap apa yang dia mau, dan gw mau menyetujui sebagai orang tuanya demi kebaikannya. Amin..

*eh tapi kenapa gw malah mendaftar masuk S2 Geologi ya? Salah fokus, nih :p